Sabtu, 11 Juni 2011

konferensi Rajab Riau

http://www.ustream.tv/channel/konferensi-rajab-riau

Selasa, 09 November 2010

Saudi: Hari Ahad Awal Bulan Dzul Hijjah


Mahkamah Agung Saudi Arabiya telah mengumumkan, Sabtu (6/11) sore, bahwa awal bulan Dzul Hijjah jatuh pada hari Ahad (7/11). Keputusan ini diambil berdasarkan ru’yatul hilal (melihat bulan). Demikian dilansir Islammemo.cc (6/11).

Berdasarkan keterangan dari Mahkamah, pada Sabtu sore kemarin Mahkamah Agung mengadakan pertemuan di Riyadh dan menetapkan bahwa malam Ahad adalah awal dari bulan Dzul Hijjah 1431 H, berdasarkan kalender Umul Qura.

Melalui kantor berita Saudi, Mahkamah Tinggi Agung juga telah mengumumkan mengenai hal ini. Dalam pengumumannya, Mahkamah Agung menyatakan bahwa keputusan ini berlaku bagi seluruh umat Islam secara umum.

Dengan demikian, berarti wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzul Hijjah 1431, jatuh bertepatan pada tanggal 15 November 2010. Dan Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Dzul Hijjah 1431, jatuh pada tanggal 16 November 2010. [hidayatullah.com. 7/11/2010] [hizbut-tahrir.or.id , 09/11/2010]

Minggu, 07 November 2010

Rakyat Gaza Bantu Korban Mentawai dan Merapi




Sabtu, 30/10/2010 17:19 WIB | email | print | share



Untuk yang kesekian kalinya, rakyat Gaza, Palestina, telah menunjukkan rasa ukhuwah dan solidaritasnya kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang terus dilanda bencana, khususnya bencana yang diakibatkan tsunami setinggi tiga meter yang menghantam Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar), Senin malam, (25/10/10) dan meletusnya Gunung Merapi di pulau Jawa dan mengeluarkan Awan Panas pada Selasa, (26/10/10) sekitar pukul 17.00 sore dengan jarak luncuran sekitar 1,5 hingga 2 kilometer

Tahun 2006, saat terjadi Gempa di Yogyakarta dan Klaten, Jawa tengah, rakyat Gaza menyampaikan bantuan via KISPA (Komite Indonesia untuk Solodaritas Palestina), dan bantuan tersebut berjumlah Rp. 5.000.000; (Lima Juta Rupiah) diantar langsung oleh Ustadz. Ferry Nur ke lokasi pengungsian di Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta .

Begitu pula saat Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) di Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Padang, Sumatra Barat, gempa yang terjadi pukul 17.16 WIB di kedalaman 71 Km, berjarak 57 Km barat daya Pariaman, pengurus KISPA yang terdiri dari Andi Syaifuddin (Sekjen) dan Dasrial (Bendahara) menyampaikan secara langsung amanah rakyat Gaza, Palestina kepada korban gempa di Ulaan, Pariaman.

Walaupun rakyat Gaza, Palestina sedang dijajah dan blokade Israel dan sekutunya, rumah mereka hancur, hidup di kamp pengungsian, kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok dan obat-obatan, tetapi mereka masih memiliki iman dan rasa kepedulian yang yang tinggi terhadap rakyat Indonesia yang sedang dirundung musibah.

Ziad Said Mahmud asal Gaza, kordinator bantuan kemanusiaan internasional Palestina dan juga Direktur Al-Sarraa Foundation menjelaskan sumbangan untuk korban bencana di Indonesia merupakan hasil keputusan musyawarah antara ulama dan rakyat Palestina, baik yang ada di Jalur Gaza maupun di Suriah.

Lebih lanjut, Ziad menjelaskan, “Kami tahu, jumlah ini tidak seberapa dibandingkan kesusahan yang sedang dialami saudara-saudara kami di Mentawai dan Merapi. Tapi terimalah ini sebagai tanda cinta kami. Kita satu tubuh. Kalian sakit, kami ikut sakit, sebagaimana kalian merasa sakit ketika melihat kami sakit dan menderita karena dijajah Israel,”

Bantuan untuk korban Tsunami di Mentawai sebesar 2 ribu dolar disampaikan lewat Ustadz Ferry Nur, Ketua KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), sedangkan bantuan untuk korban letusan Gunung Merapi juga sebesar 2 ribu dolar disampaikan lewat Amirul Iman, Direktur Operasional Sahabat Al-Aqsha.

Insya Allah, bantuan dari rakyat Gaza, Palestina akan kami sampaikan kepada mereka yang berhak secara langsung dan saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kepeduliannya kepada rakyat dan bangsa Indonesia, ujar ketua KISPA.

Dan bagi masyarakat yang ingin ikut serta meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita akibat bencana, silahkan untuk menyalurkan infaq terbaiknya ke Infaq “KISPA” PEDULI NEGERI, khusus membantu korban bencana di Indonesia, Bank Muamalat Indonesia (BMI) cabang Fatmawati norek: 911.05871.99 an/ Andi Syaifuddin QQ KISPA . (kispa/fn)

sumber: http://www.eramuslim.com/

FACEBOOK HARAM, BENARKAH?













Tanya :


Ustadz, benarkah facebook hukumnya haram? (Ridwan, Banjarmasin).


Jawab :
Facebook adalah sebuah situs jejaring sosial di dunia maya yang memungkinkan para anggotanya untuk saling berinteraksi dalam berbagai bentuknya. Misalnya, melakukan chatting (ngobrol atau diskusi via internet), mencari teman, berkirim e-mail, bertukar foto, menyebarkan undangan kegiatan, mengiklankan suatu produk bisnis, dan sebagainya. Inilah sekilas fakta facebook. (Lihat www.facebook.com). Bagaimanakah hukum facebook ini menurut fiqih Islam?





Facebook hukum asalnya adalah mubah (boleh). Ini adalah hukum asal untuk berbagai sarana modern dalam berkomunikasi, sama halnya dengan ponsel, faksimili, dan sebagainya. Dasar kemubahannya adalah hadis Nabi SAW,"Kamu lebih mengetahui urusan dunia kamu." (antum a'lamu bi-amri dun-yakum). (HR Muslim, no 4358). Latar belakang hadis ini adalah Nabi SAW suatu saat pernah melarang menyerbukkan kurma (ta`bir an-nakhiil). Ternyata kurmanya tidak berbuah. Nabi SAW pun kemudian mengucapkan sabdanya tersebut. Hadis ini menerangkan bahwa "urusan dunia", yaitu apa saja yang tidak terdapat ketentuan hukumnya dari wahyu, maka hal itu diserahkan kepada pendapat manusia. (Lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim, 8/85). Jadi hadis ini adalah dalil bahwa secara umum syara' membolehkan segala produk sains dan teknologi, selama tidak bertentangan dengan Aqidah dan Syariah Islam. (Abdul Qadim Zallum, Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufur, hal. 12).

Selain berdasarkan hadis itu, kemubahan facebook juga dapat didasarkan pada kaidah fiqih : al-ashlu fi al-asy-syaa` al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu 'ala at-tahrim. Artinya, hukum asal sesuatu (benda/barang) adalah boleh, hingga terdapat dalil yang mengharamkannya. (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa al-Nazha`ir fi Al-Furu', hal. 108; Imam Syaukani, Nailul Authar, 12/443). Yang dimaksud dengan al-asy-yaa' (jamak dari asy-syai`) dalam kaidah ini adalah segala materi (zat) yang digunakan manusia dalam perbuatannya (al-mawaad allaty yatasharrafu fiiha al-insaanu bi-af'alihi). (M. Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islami, hal. 41). Berdasarkan kaidah ini, maka facebook hukum asalnya adalah boleh, karena termasuk dalam materi (zat) yang dimanfaatkan manusia dalam perbuatannya.

Namun hukum asal untuk facebook ini dapat berubah menjadi haram, jika facebook digunakan untuk melakukan segala perbuatan yang diharamkan. Dasar keharamannya adalah kaidah fiqih : al-wasilah ila al-haram haram. Artinya, segala perantaraan yang membawa kepada yang haram, hukumnya haram. (Al-Kasani, Bada`iu Ash-Shana`i', 10/478; Izzuddin bin Abdis Salam, Qawa'id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, 2/402; Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, I'lamul Muwaqqi'in, 3/345). Kaidah fiqih ini berarti bahwa segala sesuatu baik berupa perbuatan manusia (al-af'aal) maupun berupa materi (zat) (asy-syai`), yang diduga kuat dapat mengantarkan kepada yang haram, hukumnya menjadi haram walau hukum asalnya mubah.

Maka dari itu, facebook hukumnya menjadi haram, jika digunakan untuk segala sesuatu yang menjurus kepada yang haram. Misalnya, mengucapkan kata-kata yang membangkitkan syahwat lawan jenis, melakukan perselingkuhan, melakukan pendekatan kepada lawan jenis untuk bersenang-senang semata (bukan dalam rangka khitbah atau nikah), dan sebagainya. Diharamkan pula menggunakan facebook untuk melakukan transaksi haram, seperti bisnis narkoba atau prostitusi, atau untuk menyebarkan ide-ide kufur, seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, demokrasi, nasionalisme, marxisme, dan sebagainya.

Kesimpulannya, facebook hukum asalnya mubah. Namun hukumnya menjadi haram jika digunakan untuk segala sesuatu yang telah diharamkan syariah Islam. Wallahu a'lam. [ ]

Yogyakarta, 13 Juni 2009
Muhammad Shiddiq Al Jawi

Sabtu, 06 November 2010

Surat Kabar Mesir: Bom Parsel Kerjaan Rutin Zionis Israel


eramuslim.com


Plot bingkisan bom yang digagalkan telah memicu peringatan keamanan internasional pekan lalu dan memicu peringatan terorisme global dan menghidupkan kembali diskusi mengenai langkah-langkah keamanan.

Pada tanggal 29 Oktober, aparat keamanan Inggris menemukan sebuah paket berisi bahan peledak di pesawat kargo terdaftar Amerika yang menuju ke Amerika Serikat dari Yaman di Bandar Udara Midlands East di Inggris tengah.

Presiden AS Barack Obama mengatakan paket yang ditemukan di Inggris bersama dengan paket yang lain ditemukan di Dubai ditujukan untuk sinagoga di Chicago.

Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano mengatakan bahwa plot pemboman merupakan "keunggulan dari al-Qaidah".

"Tapi, mengapa Al-Qaidah?", Tanya surat kabar berbahasa Arab Mesir Al-Ahram bertanya dalam editorial yang diterbitkan pada hari Kamis 4 November lalu.

"Operasi teroris tersebut sangat berbahaya serta mahal untuk melaksanakannya, karena mereka membutuhkan banyak sumber daya untuk secara hati-hati dan tegas dilaksanakan," tulis Al-Ahram.

"Di sisi lain, tidak ada petunjuk yang memandu kita untuk mengetahui pelaku nyata kejahatan-kejahatan ini, kecuali negara-negara Barat tertentu, terutama Amerika Serikat, yang dengan cepat dan pasti langsung menuduh kelompok al-Qaidah, di bawah kepemimpinan Usamah bin Ladin, sebagai satu-satunya tersangka", kata Al-Ahram.

"Tapi, seperti yang telah kita pelajari dari pengalaman, tersangka dan pelaku utama dari aksi-aksi teror bisa jadi rezim Israel yang memiliki urutan panjang dalam melakukan tindakan sabotase seperti ini", surat kabar berbahasa Arab itu mengatakan.

"Agen mata-mata Israel Mossad menikmati catatan yang baik dalam melakukan serangan teror.

"Beberapa ledakan mengguncang kota-kota Mesir Iskandariyah dan Kairo pada beberapa tahun terakhir, insiden tersebut juga terjadi di fasilitas AS dan bahkan di rumah-rumah ibadat Yahudi di seluruh dunia dan penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa Israel telah melakukan semua tindakan kriminal ini", kata Al-Ahram mengatakan dalam kolom editorial nya.

Surat kabar Mesir ini mengatakan agen rahasia dari rezim Israel telah menggunakan bom parsel sejak lama.

Agen-agen Israel telah mengirim paket berisi bahan peledak untuk atase militer kedutaan besar Kairo di Yordania dan seorang pejabat Mesir di Gaza dan keduanya meledak serta meninggalkan kerusakan yang serius akibat ledakan", kata harian itu.

Menurut al-Ahram, bom parsel telah secara eksklusif digunakan Israel untuk melakukan teror dan menggunakannya beberapa kali di paruh pertama tahun 1960-an. (fq/prtv)

TANTANGAN GHAZWUL FIKRI BAGI AKTIVIS DAKWAH KAMPUS



Oleh : M. Shiddiq al-Jawi

Pengantar

Tulisan ini bertujuan menjelaskan tiga hal. Pertama, menerangkan bagaimana peta kampus di Indonesia dalam tinjauan ideologi, sekaligus menjelaskan bagaimana perang pemikiran (Ghazwul Fikri) berlangsung atas dasar peta ideologi tersebut. Kedua, menerangkan bagaimana sikap yang harus diambil mahasiswa menghadapi beratnya tantangan perang pemikiran. Ketiga, menerangkan bagaimana mahasiswa muslim mempersiapkan diri agar mampu terjun dalam perang pemikiran ini.




Peta Kampus dalam Ghazwul Fikri

Perang pemikiran (al-ghazw al-fikriy) merupakan keniscayaan bagi umat Islam. Sebab Islam memang agama perjuangan (diin shira’) sejak Rasulullah SAW diutus sebagai nabi hingga Hari Kiamat nanti. Perang pemikiran itu intinya adalah pertarungan antara ide Islam (mafahim al-islam) melawan ide kufur (mafahim al-kufr), meski pun bentuk kekufuran itu bisa jadi berbeda-beda pada setiap zaman. (Hatmiyah al-Shira’ al-Hadharat, 2002, hal. 24).

Dalam tinjauan ideologis, dewasa ini terdapat tiga ideologi (mabda`) yang ada di dunia, yaitu : Islam, demokrasi-kapitalisme (sekularisme), dan sosialisme (termasuk di dalamnya komunisme). Maka dalam arena perang pemikiran kontemporer, ide kufur (mafahim al-kufr) yang menjadi musuh Islam tersebut saat ini ada dua ideologi, yaitu demokrasi-kapitalisme dan sosialisme. (Hizb al-Tahrir (al-Ta’rif), 2010, hal. 60).

Dalam sejarah Indonesia, pertarungan tiga ideologi itu nampak jelas sejak paruh pertama abad ke-20 hingga saat ini. Ketiga ideologi itu dikenal dengan sebutan : nasionalis, agama (Islam), dan komunis (ingat istilah "nasakom"). Ideologi Islam dianut oleh gerakan-gerakan Islam seperti Sarekat Dagang Islam (berdiri 1905) yang lalu bertransformasi menjadi Sarekat Islam (berdiri 11 Nopember 1912), Muhammadiyah (berdiri 18 Nopember 1912), Persatuan Islam (Persis) (berdiri awal 1920-an), dan Nahdlatul Ulama (berdiri 31 Januari 1926).

Ideologi nasionalis (baca : sekuler) dianut misalnya oleh Boedi Utomo (berdiri 20 Mei 1908) dan Partai Nasional Indonesia (berdiri tahun 1927). Sementara ideologi sosialis/komunis dianut oleh PKI (berdiri 23 Mei 1920), sebagai transformasi ISDP (Indische Sociaal Democratische Vereniging) yang juga peralihan dari ISDV (Indische Sociaal Democratische Partij). (Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, hal. 138 dan 243).

Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga saat ini, ketiga ideologi tersebut dapat dikatakan masih eksis, tentu dengan dominasi di tangan kaum nasionalis (sekuler) yang memenangkan persaingan ideologi ini. Sedang dua ideologi lain, Islam dan komunis, telah mengalami proses deideologisasi, yaitu proses perlucutan dan penjinakan sebagai ideologi bernegara, sebagai akibat penggunaan strategi penggunaan senjata untuk merebut kekuasaan. (DII/TII tahun 1950-an, dan G 30 S/PKI tahun 1965). Jadi DII/TII dan PKI dilarang di Indonesia sebenarnya bukan karena ideologinya, tapi lebih karena mengadopsi strategi penggunaan senjata untuk memperoleh kekuasaan.

Dari sinilah, maka kita akan dapat melihat peta kampus Indonesia dalam Ghazwul Fikri menurut perspektif ideologi. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, maka kondisi kampus dapat dikatakan adalah potret mini dari masyarakat luas. Jika di masyarakat eksis tiga ideologi besar dunia, maka demikian pula realitas di kampus. Tentu saja kampus memiliki perbedaan dengan kondisi masyarakat di luar kampus, karena kampus merupakan masyarakat ilmiah sebagai wahana intelektual dan pendidikan.

Sebuah survei membuktikan eksisnya tiga ideologi tersebut. Pada tahun 2006 dilakukan survei oleh sebuah gerakan nasionalis terhadap para mahasiswa dari lima perguruan tinggi terkemuka di Indonesia (UI, ITB, UGM, UNAIR, dan UNIBRAW). Mereka ditanya apa pilihan pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang paling layak untuk Indonesia. Hasilnya, yang memilih Syariah (Islam) sebanyak 80 %, yang memilih Sosialisme 14,5%, dan yang memilih Pancasila hanya 4,5% (Kompas, 4 Maret 2008).

Terlepas dari besar kecilnya persentase, survei tersebut dengan jelas menunjukkan eksistensi tiga ideologi yang ada di kampus. Namun meski yang memilih Islam berjumlah mayoritas, bukan berarti dalam peta Ghazwul Fikri mahasiswa Islam dominan mewarnai kehidupan kampus. Secara umum mahasiswa Islam masih menjadi pihak pecundang dan terjajah oleh ideologi asing. Sebab perlu diingat, kampus itu sendiri itu adalah bagian dari sistem pendidikan yang tetap mengacu kepada ideologi sekularisme.

Dalam kaitan ini, Nasim Butt dalam bukunya Sains dan Masyarakat Islam menegaskan bahwa kurikulum pendidikan di sebagian besar di negeri-negeri Islam saat ini adalah produk kolonial murni, yaitu sistem pendidikan yang didasarkan pada sekularisme yang mendikotomikan antara agama dan negara. (Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam, 1996, hal. 22 dan 129).

Dengan uraian ini, jelaslah siapa saja pihak yang menjadi lawan mahasiswa Islam dalam Ghazwul Fikri di lingkungan kampus. Pertama, adalah kelompok-kelompok dari dua ideologi lain, yaitu sosialisme dan sekularisme. Kedua, adalah sistem pendidikan di kampus itu sendiri yang mendasarkan kurikulumnya pada sekularisme.

Kelompok sosialis jumlahnya lebih sedikit daripada kelompok sekuler, meski mungkin mereka lebih militan. Sedikitnya kelompok sosialis itu mungkin karena dampak hancurnya Uni Soviet awal tahun 1990-an yang membuat orang tak percaya lagi pada sosialisme. Namun kepedulian mereka kepada rakyat kecil masih menyisakan daya tarik, apalagi di tengah penerapan neoliberalisme saat ini yang terus menerus membuat rakyat menderita. Anak muda yang bersemangat tapi awam ideologi masih dapat tertarik dengan propaganda murahan mereka yang terkesan pro-rakyat.

Eksistensi kelompok sosialis ini dapat ditengarai dengan beberapa indikasi. Misalnya aksi-aksi demo tertentu yang khas gaya kaum kiri, yaitu selalu mencoba membenturkan pemerintah dan rakyat. Juga adanya buku-buku tertentu yang terindikasi dari golongan kiri. Misalnya, buku berjudul Lekra Tak Membakar Buku, dengan editor Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Merakesumba, 2008). Muhidin M. Dahlan yang dikenal dekat dengan Pramoedya Ananta Toer ini pernah menulis buku yang amat mendiskreditkan aktivis Islam, judulnya Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (Jakarta : Melibas, 2003).

Indikasi lainnya adalah adanya klub-klub kajian buku-buku sosialis lama. Misalnya yang ada di sebuah kampus negeri terkenal di Yogyakarta. Beberapa buku yang mudah didapatkan di kalangan sosialis itu misalnya; buku karya Lenin berjudul Negara dan Revolusi Adjaran Marxis Tentang Negara dan Tugas2 Proletariat di Dalam Revolusi (Djakarta : Jajasan Pembaruan, 1961). Juga buku karya F. Engels berjudul Perkembangan Sosialisme Dari Utopia Mendjadi Ilmu (Djakarta : Jajasan Pembaruan, 1963); dan buku karya Stalin berjudul Materialisme Dialektik dan Histori (Djakarta : Jajasan Pembaruan, 1955).

Sebagian aktivis Islam ada yang mencoba melakukan sinkretisme (yang gagal) antara Islam dan Sosialisme. Buku Sosialisme Religius karya Awalil Rizki menjadi satu contohnya. Termasuk kategori ini penulis produktif (dan provokatif) seperti Prasetyo dengan karyanya seperti Orang Miskin Dilarang Sakit, Orang Miskin Dilarang Sekolah, dan sebagainya.

Adapun kelompok sekuler (liberal) lebih mudah dijumpai di kampus daripada kelompok sosialis. Mereka ini macam-macam bentuknya, jangan dibayangkan hanya JIL (Jaringan Islam Liberal) saja, yang pernah dipimpin oleh manusia gagal Ulil Abshar Abdalla. Sebagai aktivis yang gemar memanipulasi ajaran Islam, barangkali Ulil dapat dibilang cukup berani dan vulgar. (Lihat bukunya Menjadi Muslim Liberal (Jakarta : Jaringan Islam Liberal – Freedom Institute, 2005). Namun sebagai insan akademis, orang patut meragukan kemampuan berpikir Ulil. Karena ternyata Ulil mengalami DO (drop out) dua kali; pertama dari program S-1 LIPIA Jakarta dan kedua dari program doktoral Harvard University di AS. (www.voa-islam.com).

Sekali lagi yang berideologi sekuler-liberal bukan hanya JIL. Bisa jadi dia adalah dosen atau malah rektor di sebuah kampus negeri yang terkenal. Atau seorang tokoh nasional yang banyak dikagumi orang. Atau seorang aktivis dan peneliti dari NGO tertentu. Bacalah misalnya buku berjudul Gerakan Islam Syariat Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia (Jakarta : PSAP, 2007) yang diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif. Juga buku Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia karya sejumlah orang yang tidak jelas, dengan editor KH. Abdurrahman Wahid (Jakarta : LibForAll, 2009). Atau karya M. Imdadun Rahmat berjudul Ideologi Politik PKS (Yogyakarta : LKiS, 2008). Atau buku karya M. Hasbi Amiruddin berjudul Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman (Yogyakarta : UII Press, 2000).

Ini sekedar contoh bahwa ide sekuler-liberal sesungguhnya telah diemban oleh orang-orang dari berbagai kelompok dan lapisan, bukan hanya diemban oleh JIL yang telah difatwakan sesat oleh MUI tahun 2005.

Sistem pendidikan juga menjadi satu pihak yang perlu dihadapi dalam Ghazwul Fikri antara Islam versus sekularisme ini. Salah satu modusnya adalah pengajaran agama Islam yang tidak komprehensif. Islam hanya diajarkan sebatas agama spiritual dan pribadi, bukan agama yang mengatur segala aspek kehidupan.

Akibatnya, peserta didik tak tahu apa itu Khilafah (Imamah), dan tak tahu bahwa Khilafah adalah juga suatu kewajiban agama, sebagaimana kewajiban sholat, zakat, haji, dan sebagainya. Jelas ini manipulasi ajaran Islam, atau setidaknya adalah tindakan menyembunyikan ilmu (kitman al-‘ilm) yang amat jahat oleh pihak-pihak pembuat sistem pendidikan.

Kalaupun diajarkan Fikih Siyasah yang membahas persoalan Khilafah, yang dijadikan acuan dan dianggap benar selalu literatur yang menentang wajibnya Khilafah dan membenarkan demokrasi. Misalkan buku Khilafah dan Pemerintahan dalam Islam (Al-Islam wa Ushul al-Hukm) karya Ali Abdur Raziq (Bandung : Pustaka, 1985). Atau paling tidak mahasiswa dianjurkan membaca buku-buku Noercholish Madjid semisal Islam, Doktrin, dan Peradaban (Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), atau yang berjudul Islam, Kemoderenan, dan Keindonesiaan (Bandung : Mizan, 1989).

Dengan membaca buku-buku ini, mahasiswa di kampus akan digiring untuk berpandangan bahwa dalam Islam tidak ada Negara Islam (Khilafah/Imamah). Sebaliknya mereka akan diarahkan untuk meyakini sistem pemerintahan yang justru dari negara penjajah, yaitu demokrasi.

Apa Yang Harus Dilakukan?

Apa yang harus dilakukan mahasiswa menghadapi fenomena gencarnya Ghazwul Fikr yang selalu marak dan berpusat di pusaran intelektual kampus? Tentu yang utama adalah tetap istiqomah, dan selanjutnya melakukan persiapan (isti’dad) untuk terjun dalam Ghazwul Fikri menghadapi ideologi kufur Sosialisme dan Sekularisme yang mencengkeram kehidupan saat ini.

Istiqomah, artinya teguh pendirian dan tetap meyakini Islam sebagai cara hidup (ideologi/the way of life). Juga berarti sabar, tidak mudah tunduk dan tergiur untuk mengikuti ajakan-ajakan batil dari ideologi-ideologi selain Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

ان من ورائكم أيام الصبر، الصبر فيهن مثل القبض على الجمر للعامل فيهن أجر خمسين رجلا يعملون مثل عمله، قيل : يا رسول الله أجر خمسين منهم؟ قال: بل أجر أجر خمسين منكم


"Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada hari-hari itu bagaikan memegang bara api. Namun bagi orang yang mengamalkan (ajaran Islam) pada hari-hari itu, akan mendapat pahala 50 orang yang mengamalkan semisal ajaran itu." Ada yang bertanya,"Wahai Rasulullah, apakah maksudnya mendapat 50 pahala dari orang di kalangan mereka?" Rasulullah SAW menjawab,"Tidak, tapi mendapat 50 pahala dari orang di antara kalian (para sahabat)." (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan).

Hadis ini menerangkan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW akan datang masa-masa sulit, di mana saat itu orang yang istiqamah dengan ajaran Islam, akan seperti memegang segenggam bara api. Memang sangatlah panasnya. Tapi pahalanya ternyata sangat agung dan mulia, karena setara dengan pahala 50 orang sahabat Nabi SAW yang mengamalkan ajaran itu. Subhanallah.

Rasulullah SAW bersabda :

َألاَ إِنَّ رَحَى الإِسْلاَمِ دَائِرَةٌ؛ فَدُورُواْ مَعَ الإِسْلاَمِ حَيْثُ دَارَ، أَلاَ إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلاَ تُفَارِقُواْ الْكِتَابَ


"Perhatikanlah, sesungguhnya roda Islam akan berputar, maka berputarlah bersama Islam di mana saja Islam itu berada. Ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur`an dan kekuasaan akan terpisah. Maka janganlah kamu memisahkan diri dari al-Qur`an." (HR at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Shaghir, hadits no. 794; Lihat juga Al-Haitsami, Majma’ az-Zawa`id, V/225-226).

Hadis ini memerintahkan kita mengikuti Islam, di mana pun juga Islam berada. Hadis ini juga menjelaskan pada suatu saat urusan kekuasaan akan terpisah dari ajaran Islam yang berpangkal pada Al-Qur`an. Maka jika suatu saat kondisi ini terjadi –barangkali seperti saat ini ketika Sekularisme dipaksanakan setelah hancurnya Khilafah di Turki 1924— kita umat Islam diperintahkan Nabi SAW untuk tetap istiqamah dan setia berpegang teguh dengan Al-Qur`an.

Rasulullah SAW bersabda :

لَيَنْقضَنَّ عُرَى الإسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً ، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيْهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ؛ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

"Sungguh buhul-buhul ajaran Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu buhul ajaran terurai, orang-orang akan bergelantungan pada buhul tali selanjutnya yang tersisa. Yang pertama akan terurai adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah sholat." (HR Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad V/251 dengan isnad sahih).

Dalam hadis ini Nabi SAW menjelaskan ajaran Islam akan hancur (tak diamalkan lagi) satu demi satu. Menurut Syaikh Hisyam al-Badrani dalam kitabnya an-Nizham as-Siyasi Ba’da Hadm Daulah al-Khilafah, bahwa yang pertama terurai adalah pemerintahan, maksudnya adalah ketika sistem pemerintahan berubah dari sistem syura (pilihan rakyat) pada masa Khulafa` Rasyidin, menjadi sistem turun temurun yang mirip sistem kerajaan pada masa Bani Umayyah.

Sedang yang terakhir terurai adalah sholat, maksudnya adalah ketika seluruh hukum-hukum Islam tidak diamalkan lagi dengan hancurnya Khilafah di Turki tahun 1924. Karena lafazh "sholat" dalam hadis ini maknanya adalah makna kinayah, yaitu menyatakan sebagian ajaran/hukum Islam (sholat) namun yang dimaksud adalah keseluruhan hukum-hukum Islam (dalam negara Khilafah). (Hisyam al-Badrani, an-Nizham as-Siyasi Ba’da Hadmi Daulah al-Khilafah, hal. 39).

Persiapan Ghazwul Fikri

Untuk terjun ke dalam kancah Ghazwul Fikri, terdapat dua persiapan utama yang harus dilakukan mahasiswa :

Pertama, mengkaji ajaran Islam (mafahim al-islam) secara benar sehingga diperoleh pemahaman komprehensif tentang Islam sendiri.

Kedua, mengkaji ide-ide kufur (mafahim al-kufr) yang akan menjadi sasaran serangan kita dalam Ghazwul Fikri, khususnya Sosialisme dan demokrasi-sekularisme, beserta segala ide dan faham yang menjadi derivat dari keduanya. Misalnya demokrasi, pluralisme, nasionalisme, dialog antar agama, globalisasi, privatisasi, feminisme, relativisme, dan seterusnya.

Kedua langkah di atas hendaklah dilaksanakan secara berurutan. Belajarlah Islam lebih dulu, barulah belajar ide-ide kufur. Sebab secara alamiah orang umumnya akan meyakini ide yang lebih dulu dipelajari. Ide awal ini biasanya akan dijadikan standar (miqyas) untuk menilai ide-ide yang dipelajari kemudian.

Pada langkah pertama, Islam yang dikaji hendaknya dikaji melalui bagian-bagian pokok ajaran Islam, yaitu Aqidah Islam lebih dahulu, kemudian Syariah Islam. Tentu bukan Syariah secara parsial (misal hanya rukun Islam), melainkan Syariah Islam secara komprehensif, termasuk sistem pemerintahan Islam (Khilafah), sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, politik luar negeri, dan seterusnya.

Dengan demikian akan diperoleh gambaran konsep Islam secara utuh sebagai sebuah ideologi atau cara hidup (the way of life). Barangkali kitab Nizhamul Islam karya Imam Taqiyuddin an-Nabhani dapat menjadi contoh untuk kajian Islam yang demikian ini.

Setelah memahami bagian-bagian pokoknya, kajian dapat diperdalam dengan mengkaji Islam melalui ilmu-ilmu dasarnya (tsaqafah Islamiyah), yang meliputi : Ulumul Qur`an, Ulumul Hadits, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Fiqih, dan Sirah Nabi / Tarikh (Sejarah Islam). Sebelum menerjuni masing-masingnya secara mendalam, ada baiknya mengkaji garis-garis besar ilmu-ilmu itu. Mungkin kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz I karya Imam Taqiyuddin an-Nabhani dapat menjadi salah satu contoh kitab untuk tujuan ini.

Pada setiap cabang ilmu dasar itu, diperlukan kajian terhadap ide-ide kaum orientalis kafir yang senantiasa berusaha melontarkan keragu-raguan kepada umat Islam. Misal dalam Ulumul Qur`an, perlu dikaji ide-ide orientalis yang berusaha meragukan keabsahan mushaf Utsmani. Demikian juga dalam Ulumul Hadits, dan seterusnya. Buku-buku Muhammad Mustafa al-A’zhami sangat bagus untuk keperluan ini, misalkan bukunya yang berjudul The History of The Qur`anic Text (Jakarta : GIP, 2005).

Pada langkah kedua, yaitu mempelajari ide-ide kufur (khususnya ideologi Sosialisme dan Sekularisme), hendaknya dipelajari materi pengantar yaitu perbandingan ideologi (muqaranah al-mabadi`) antara ideologi Islam, Sosialisme, dan Sekularisme. Mungkin kitab Ath-Thariq karya Ahmad ‘Athiyat dapat dipergunakan untuk tujuan ini. Dapat juga kita menambah wawasan dengan membaca Isme-Isme Dewasa ini (Today’s Isms) karya Ebenstein dan Frank Vogel, atau buku Ideologi Politik Mutakhir (Political Ideology Today) karya Ian Adams.

Setelah materi pengantar itu, barulah dikaji secara rinci masing-masing ideologi kufur secara mendalam. Misalnya untuk mengkaji Sosialisme, dapat dikaji kitab Naqdh al-Isytirakiyah al-Marksiyah karya Syaikh Ghanim Abduh. Untuk mengkaji Sekularisme/Kapitalisme dapat dikaji kitab Hatmiyah Inhidam Ar-Ra`sumaliyah Al-Gharbiyah karya Syaikh Fahmi Thabib. Bagus juga kitab karya Abul Hasan Ali an-Nadwi yaitu ash-Shira’ Baina Al-Fikrah al-Islamiyyah wa al-Fikrah al-Gharbiyah. Buku Modernism karya Maryam Jameelah bagus juga untuk keperluan ini.

Khusus untuk kritik terhadap ide Sekularisasi Nurcholish Madjid, dapat dibaca buku karya Faisal Ismail berjudul Membongkar Pemikiran Nurcholish Madjid Seputar Isu Sekularisasi Islam (Jakarta : Lasswell Visitama, 2010). Untuk mengkaji ide-ide liberal secara kritis, bagus kalau kita menelaah buku semisal Orientalis & Diabolisme Pemikiran, karya Syamsuddin Arif (Jakarta : GIP, 2008). Untuk menjawab buku Ilusi Negara Islam, baik juga dibaca buku Ilusi Negara Demokrasi karya Farid Wadjdi dkk (Bogor : Al Azhar Press, 2009).

Perlu dicatat, untuk melakukan berbagai kajian di atas, sangatlah dianjurkan menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bahasa Arab akan sangat membantu dalam kajian ide Islam. Sedang bahasa Inggris, atau mungkin bahasa lainnya seperti bahasa Perancis, Jerman, dll, akan sangat diperlukan saat kita mempelajari ide selain Islam.

Secara hukum, melakukan persiapan Ghazwul Fikri ini hukumnya adalah wajib karena ia merupakan bagian aktivitas dakwah yang hukumnya wajib (QS An-Nahl : 125; QS Fushilat : 33). Hanya saja kewajiban ini sifatnya fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain. Sebab melakukan Ghazwul Fikri termasuk aktivitas yang memerlukan keahlian khusus, seperti halnya menjadi ahli tafsir, ahli fiqih, dan sebagainya yang hukumnya fardhu kifayah, bukan fardhu ain.

Penutup

Memang, terjun ke dalam pergolakan pemikiran ini sangat berat. Karena persiapannya saja memerlukan kajian yang tidak ringan dan tak sedikit. Apalagi saat kita nanti benar-benar terjun di dalamnya, tentu kesulitan dan tantangannya akan lebih berat lagi. Ingat bagaimana Ismail Raji al-Faruqi dan Lamiya isterinya yang mati syahid diberondong Mossad karena sering mengkritik negara Yahudi (Israel). Atau Sayyid Quthub dan Abdul Qadir Audah yang harus menghadapi tiang gantungan lantaran menentang pemerintahan Mesir yang menerapkan sekulerisme sekaligus militerisme yang kejam atas umat islam.


Namun di balik beratnya melakukan tugas suci nan mulia ini, Allah SWT sudah pasti tiada menyia-nyiakan amal para hamba-Nya. Allah SWT menjajikan pula pahala yang besar. Semakin berat kesulitan kita, akan semakin agung pahala dari Allah, insya Allah. Kaidah fiqih menyebutkan : Maa kaana aktsara fi’lan kaana aktsara fadhlan (Apa saja yang lebih banyak susah payahnya, akan lebih besar pula pahalanya). (Muhammad Shidqi al-Burnu, Mausu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, IX/171). Wallahu a’lam bi al-shawab.




 

*Makalah disampaikan dalam Sekolah Singkat Lembaga Dakwah Kampus, dengan tema "Fight Against Ghazwul Fikri", diselenggarakan oleh Panitia Ramadhan di Kampus (RDK) Jamaah Shalahuddin UGM, 22 Agustus 2010, di Asrama Haji Yogyakarta.

Jumat, 05 November 2010

Abu Merapi Menyelimuti, Warga Bogor Panik


BOGOR - Warga di kawasan Puncak dan Ciawi, Bogor, Jawa Barat, sempat panik saat abu vulkanik dari Gunung Merapi, terbawa sampai ke wilayah tersebut.

Beberapa warga sempat panik dan keluar rumah untuk melihat hujan abu yang turun tiba tiba itu.

Deni, salah seorang warga Ciawi, mengaku sempat tidak percaya dengan adanya hujan abu. "Saya masih enggak percaya karena wilayah Bogor dengan Gunung Merapi jaraknya sangat jauh," ujarnya, Jumat (5/11/2010).

Sementara itu, ratusan kendaraan yang melintas dari arah Sukabumi dan Puncak, terlihat penuh dengan abu. Pantauan di wilayah Ciawi, Bogor, belum ada otoritas setempat yang membagikan masker.

(Endang Gunawan/Global/lam)

sumber: www.okezone.com

AKSI GEMA PEMBEBASAN KORWIL RIAU, TOLAK OBAMA DATANG KE INDONESIA [05 NOVEMBER 2010]

ALLAHUAKBAR !! Tolak OBAMA Presiden Negara Agresor Amerika Serikat datang Ke Indonesia... Allahuakbar !! Ketua GEMA PEMBEBASAN Korwil RIAU berorasi.


TOLAK OBAMA !! Peserta Aksi Memajang Spanduk TOLAK OBAMA ke arah jalan.


Peserta Longmarch start dari Bundaran Air Mancur - RRI {[pembacaan pernyataan sikap] - Kembali ke Bundaran Air Mancur.


ALLAHUAKBAR !! Peserta Semangat dan antusias mengikuti jalanya Aksi. TOLAK OBAMA datang ke Indonesia.


Di tengah Aksi, digalang juga dana Bantuan untuk Saudara-saudara yang mengalami Musibah di Mentawai dan Gunung Merapi.


Peserta Aksi.



Kamis, 04 November 2010

METODE PENENTUAN IDUL ADHA


Tanya :

Ustadz, mohon diterangkan bagaimana metode penentuan Idul Adha?

Jawab :

Penentuan Idul Adha (10 Dzulhijjah) bergantung pada penentuan awal bulan Dzulhijjah. Dalam hal ini para fuqaha sepakat, bahwa penentuan awal bulan Dzulhijjah hanya didasarkan pada rukyatul hilal saja, bukan dengan hisab.



Ini ditegaskan oleh Syaikh Abdul Majid al-Yahya dalam kitabnya Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah,”Tak ada khilafiyah di antara fuqaha, bahwa rukyatul hilal adalah standar/patokan dalam penentuan masuknya bulan Dzulhijjah….” (Abdul Majid al-Yahya, Atsar Al-Qamarain fi Al-Ahkam Al-Syar’iyah, hal. 198).

Dalilnya adalah dalil-dalil umum bahwa metode standar untuk menentukan awal bulan-bulan Qamariyah adalah rukyatul hilal saja. Misalkan hadits Nabi SAW,”Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal.” (HR Bukhari no 1776; Muslim no 1809; At-Tirmidzi no 624; An-Nasa`i no 2087). (Lihat Abdul Majid al-Yahya, ibid., hal. 199; Ahmad Muhammad Syakir, Awa`il al-Syuhur Al-Arabiyah, hal.4; Fahad Al-Hasun, Dukhul al-Syahr al-Qamari, hal. 14).

Berdasarkan hadits-hadits seperti itu, lahirlah ijma’ ulama bahwa hisab astronomis (al-hisab al-falaki) tidak boleh dijadikan sandaran untuk menentukan masuknya awal bulan Qamariyah. Ijma’ ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Taimiyah, Abul Walid al-Baji, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi, Ibnu Hajar, Al-‘Aini, Ibnu Abidin, dan Syaukani. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 25/132; Fathul Bari, 4/158; Tafsir al-Qurthubi, 2/293; Hasyiyah Ibnu Abidin, 3/408; Bidayatul Mujtahid, 2/557).

Namun khusus untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah yang terkait dengan Idul Adha, rukyatul hilal yang menjadi patokan utama adalah rukyatul hilal penguasa Makkah, bukan dari negeri-negeri Islam yang lain. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat hilal, barulah rukyat dari negeri yang lain dapat dijadikan patokan.

Dalilnya adalah hadits dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata,"Amir (penguasa) Makkah berkhutbah kemudian dia berkata,"Rasulullah telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya." (HR Abu Dawud, hadits no 2339. Imam Daruquthni berkata,"Hadits ini isnadnya muttashil dan shahih." Lihat Sunan Ad-Daruquthni, 2/267. Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata,"Hadits ini shahih." Lihat Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Abu Dawud, 2/54).

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Arafah, Idul Adha, dan hari-hari tasyriq, adalah Amir Makkah (penguasa Makkah), bukan yang lain. Pada saat tiadanya pemerintahan Islam (Khilafah) seperti sekarang, kewenangan itu tetap dimiliki penguasa Makkah sekarang (Saudi Arabia), meski sistem pemerintahannya berbentuk kerajaan, bukan Khilafah.

Kesimpulannya, penentuan Idul Adha ditetapkan berdasarkan rukyatul hilal, bukan hisab. Hanya saja, rukyat yang diutamakan adalah rukyat penguasa Makkah. Kecuali jika penguasa Makkah tidak berhasil merukyat, barulah diamalkan rukyat dari negeri-negeri yang lain. Wallahu a’lam.

Malang, 31 Oktober 2010

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Selasa, 24 November 2009

Obama Akan Mengirim Tentara Lebih Banyak ke Afghanistan

Presiden AS Barack Obama bertemu dengan Tim NSC (National Security Council - Dewan Keamanan Nasional), Senin (23/11), di Gedung Putih, mendiskusikan tentang pilihan yang akan diambil terhadap prang di Afghanistan. Obama yang sudah bertemu dengan tim NSC itu memilih opsi mengirimkan lebih banyak lagi tentara ke Afghanistan.

Sesudah pertemuan lengkap yang dihadiri tokoh dalam Tim NSC, nampaknya Presiden Obama akan segera mengumumkan langkah-langkah yang akan diambil terhadap Afghanistan. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Putih itu, berlangsung hari Senin malam (23/11), ujar juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.

Pertemuan Senin petang itu, berlangsung hingga pukul 10.00 pm, yang dihadiri Wapres Joe Biden, Menhan Robert Gate, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Laksamana Mc Mullen, Panglima paskan AS di Afghanistan Jendral Mc Chrystal, dan Dubes AS di Afghanistan, Karl Eikenberry. Meskipun, ketika bertemu dengan sejumlah pejabat militer AS, ketika memperingati hari Veteran Perang, tanggal 11 Nopember, Presiden Obama telah meminta agar dilakukan revisi terhadap rencana penambahan pasukan AS di Afghanistan. Obama juga memikirkan bagaimana strategi militer AS dapat 'keluar' dari Afghanistan.

Menurut informasi dari Gedung Putih, Obama memilih menambah jumlah pasukan AS dengan jumlah sekitar 34.000 ke Afghanistan, sehingga jumlah pasukan AS di Afghanistan akan mencapai 68.000 pasukan untuk menghadapi Taliban. Sebelumnya, pertemuan yang berlangsung 11 Nopember itu, Jendral David Petraeus, Panglima Pasukan AS di Timur Tengah, lebih menginginkan pendekatan penguatan pasukan Afghanistan, bukan penambahan pasukan ke Afghanistan.

Menlu AS, Hallary Clinton, yang belum lama berkunjung ke Kabul, dan bertemu dengan Hamid Karzai, menjelang pelantikan Presiden Hamid Karzai sebagai kesempatan penting, menegaskan komitment AS kepada Karzai agar segera memperbaiki pemerintahannya, dan memberantas korupsi. Richard Holbrooke, yang menjadi utusan khusus Presiden Obama menginginkan agar rakayt Afghansitan menolong dirinya sendiri, dan mengurangi campur tangan AS di negeri.

Keputusan Obama yang akan mengirim lebih banyak lagi tentara ke Afghanistan, hanya akan menciptakan negeri itu menjadi lebih tidak stabil. Karena, sepanjang sejarah Afghanistan telah menjadi 'kuburan' bagi para penjajah. Itu sudah terbukti. (m/cnn)

Cara Umat Islam AS Melaksanakan Kurban


Menyambut hari raya Idul Adha, Salim Ahmad menchargerbaterai mobilnya untuk sebuah perjalanan tahunan yang biasa ia lakukan sebagai bagian integral dari perayaan hari besar keagamaan umat Islam.

Dirinya akan menyetir selama hampir setengah jam dari Ashburn - Virginia, menuju kota Falls Church untuk memilih hewan untuk kurban.

"Ini adalah bagian favorit saya dari sebuah perayaan Idul Adha," kata Ahmad, seorang warga Amerika asal Pakistan, kepada IslamOnline.net.

"Saya mengajak anak-anak kesini untuk pertama kalinya tahun lalu, dan segala cara saya menjelaskan kepada mereka makna dan mengapa umat Islam harus melakukan kurban," katanya.

"Tahun ini mereka bersikeras untuk menemani saya dan memilih hewan kurban mereka sendiri," kata Ahmed sambil tersenyum menutupi wajahnya.

Udhiyah (hewan kurban) adalah bagian yang sangat penting dari perayaan Idul Adha, yang jatuh pada hari Jumat dan menandai akhir haji, bagi mayoritas Muslim AS.

"Umat Islam yang mampu secara finansial sangat antusias untuk berkurban sebagai bagian dari Sunnah nabi Ibrahim dan Ismail AS," kata Khaled Iqbal, wakil direktur All Dulles Area Muslim Society (ADAMS).

Seorang muslim yang secara finansial mampu wajib untuk mengorbankan satu ekor domba atau kambing atau bisa juga dengan berenam atau bertujuh mengorbankan seekor onta ataupun sapi selama perayaan Idul Adha.

Meskipun tidak ada statistik resmi, Muslim Amerika diperkirakan berjumlah sekita 7,8 juta jiwa.

Banyak Cara

Ahmad mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan pemotongan sendiri.

"Para pekerja pasar akan melakukannya untuk saya serta menguliti dan membagi-bagikan dagingnya."

Daging Udhiyah (hewan kurban) harus dibagi dalam tiga bagian yang sama, masing-masing untuk sepertiga untuk keluarga sendiri, seperti untuk kerabat dan seperti lagi untuk orang miskin.

Shaker El-Sayyid Imam Dar Al-Hijrah Islamic Center di Falls Church mengatakan ada banyak cara yang berbeda bagi umat Islam AS untuk berkurban.

"Beberapa toko daging halal dapat melakukan penyembelihan atas nama mereka yang berkurban, sementara yang lain pergi ke rumah-rumah pemotongan atau peternakan yang sudah ditetapkan untuk tujuan itu," jelasnya.

Bagi Hamza Al-Abbasi dari Washington DC, dirinya selalu tertarik untuk memotong hewan kurbannya sendiri.

"Setelah sholat Idul Adha kami pergi ke peternakan yang terletak di luar kota dan melakukan penyembelihan, "katanya kepada IOL.

Iqbal, deputi direktur Adams, mengatakan organisasi-organisasi amal di AS menawarkan pilihan lain bagi umat Islam.

Mereka menerima uang dari orang yang ingin melakukan kurban dan mendistribusikan daging-daging tersebut kepada masyarakat miskin di Amerika Serikat.

Banyak organisasi amal internasional umat Islam yang juga menawarkan pilihan untuk mengirim Udhiyah mereka ke seluruh dunia di wilayah-wilayah yang sangat membutuhkan.

"Ada Islamic Relief dan Helping Hand dan masih banyak kelompok lain," kata Iqbal.

Dia menambahkan bahwa banyak umat Islam imigran yang ingin berkurban biasanya memilih untuk mengirim uang ke negara asal mereka untuk dibelikan hewan kurban dan dipotong disana.

"Saya sendiri mengirim uang untuk Udhiyah ke Pakistan di mana itu udhiyah tersebut akan disembelih dan diberikan kepada yang membutuhkan."(fq/iol)

Militer Zionis Akui Tanda Kehancuran Israel

Selasa, 24 November 2009

MediaUmat- Gabi Ashkenazi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rezim Zionis Israel mengkhawatirkan eskalasi pembangkangan tentara rezim Zionis dan menilainya sebagai pemicu kehancuran militer Israel. Sebagaimana ditulis koran Zionis, Yediot Aharonot, Ashkenazi mengatakan, "Militer Israel tidak akan bisa bertahan, jika tentaranya tidak menaati perintah atasan mereka."

Kekhawatiran Ashkenazi soal eskalasi pembangkangan di kalangan tentara dan perwira militer Zionis mengemuka di saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu beberapa hari lalu memperingatkan bahwa pembangkangan terhadap perintah atasan militer bisa mengakibatkan kehancuran Israel.

Sumber Zionis melaporkan, sekitar setengah dari pemuda Israel menolak mendaftarkan diri menjadi tentara rezim Zionis. Para pengamat politik menilai peningkatan tentara Zionis yang lari dari tugas adalah faktor penyebab kekalahan Israel dalam perang dengan Lebanon pada tahun 2006 dan perang 22 hari di Jalur Gaza. Setelah kegagalan dua perang tersebut, sumber Zionis menyebutkan terjadinya peningkatan drastis aksi bunuh diri di kalangan militer Israel. (irib.ir, 23/11/2009)

Minggu, 22 November 2009

SEPATU UNTUK SANG PENJAJAH

Oleh : Muhammadun[1]


” Ini dari para janda, anak yatim dan mereka yang terbunuh di Irak”.

Demikianlah Luapan kemarahan Muntazer al-Zaidi. Ia mengaku aksinya itu dilakukan spontanitas atas dasar kebencian terhadap pemerintahan AS yang sudah membunuh ratusan ribu warga Irak sejak penjajahan Amerika atas negeri seribu satu malam tahun 2003 lalu. "Ini benar-benar aksi spontanitas yang dilakukan oleh seorang warga Irak terhadap kepala negara yang telah menjajah negeri ini," kata Liwaa Sumeissim anggota gerakan Anti-Amerika Sadr seperti dikutip AFP, Senin (15/12/2008).

Bisa dibayangkan bagaimana marahnya Muntazer, wartawan TV Al-Baghdadia, sebuah stasion TV milik Iraq. Muntazer tentu bukan wartawan biasa. Dia diminta meliput Bush dalam acara yang tertutup dan dirahasiakan . Acara ini tentu sangat istimewa sehingga yang dikirim pastilah orang istimewa. Jelas dia punya karir cemerlang, kecerdasaan, dan kemampuan , sehingga dipilih untuk meliput kedatangan Bush yang rahasia. Tapi Muntazer melakukan tindakan berani, yang mungkin saja akan menjatuhkan karirnya.

Muntazer tampaknya tidak peduli. Baginya rasa perih rakyat Irak harus ditampakkan ke presiden dari negara arogan ini. Melempar sepatu dalam tradisi orang Arab merupakan bentuk kemarahan dan penghinaan yang besar bagi yang dilempar. ” Ini ciuman perpisahan untuk mu , anjing”, teriak Muntazer.

Muntazer dan siapapun orang Irak pantas marah kepada Bush. Penjajahan yang brutal yang dilakukan AS terhadap Irak telah menaruh rasa pedih dan sakit yang mendalam. Hampir satu juta rakyat sipil orang terbunuh, jutaan janda dan anak yatim yang ditinggal suami dan ayahnya. Itulah yang terungkap dari teriakan Muntazer,” Ini dari para janda, anak yatim dan mereka yang terbunuh di Irak”.

BBC (11/4/2007) pernah mengutip pernyataan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), mengatakan bahwa situasi rakyat biasa di Irak terus memburuk. Empat tahun setelah penyerbuan pimpinan Amerika Serikat, ICRC mengatakan konflik di Irak menyebabkan penderitaan besar. Laporan lembaga paleng merah internasional (ICRC ) itu juga menyoroti sejumlah masalah. Fasilitas medis Irak mengalami kekurangan staf dan pasokan. Banyak dokter, perawat dan pasien yang tidak berani lagi pergi ke rumah sakit dan klinik karena takut menjadi sasaran. Banyak infrastruktur air, saluran pembuangan dan listrik dalam kondisi kritis. Kekurangan pangan dilaporkan terjadi di sejumlah daerah. Kasus kekurangan gizi juga dilaporkan terus meningkat.

Penjajahan Amerika

Amerika saat ini adalah simbol imperialisme. Baik penjajahan yang vulgar dilakukan seperti di Irak dan Afghanistan, maupun berbagai bentuk neoimperialisme melalui campur tangan keamanan, ekonomi, budaya dan politik di negara-negara lain. Jamil Salmi dalam violence and democatic society mencatat bahwaAmerika Serikat antara tahun 1945 sampai 2001 saja sudah melakukan 218 kali intervensi terhadap negara lain. Nergara Paman Sam ini juga merupakan otak kudeta berdarah di berbagai negara. Genocide atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme juga telah menimbulkan korban sipil yang sangat besar di Irak dan Afghansitan. Pasca pendudukan AS, korban rakyat sipil Irak hampir mencapai angka 1 juta orang.

Negara ini memang haus darah dan mesin pembunuh. John Pike dari www.GlobalSecurity.org, sebuah grup riset, tentara Amerika menghamburkan 250.000 peluru untuk menembak mati tiap seorang gerilyawan. Biaya perang demikian besar. Staf Partai Demokrat di Kongres menghitung dari 2002 sampai 2008, perang yang lebih panjang dibanding Perang Dunia kedua itu, menghabiskan 1,3 trilyun dollar.

Menurut Salmi, Amerika juga merupakan pendukung pemerintah refresif di berbagai negara. Mendukung pemerintahan Syah Reza Pahlevi di Iran yang dikenal diktator, raja-raja Arab yang refresif, termasuk Suharto di masa orde Baru. Pasca perang dingin negara ini mendukung Musharaf penguasa diktator Pakistan yang kemudian dilengserkan oleh rakyatnya , Husni Mubarak di Mesir, atau Karimov di Uzbekistan. Jangan dilupakan negara ini merupakan pendukung setia rezim teroris Israel yang hingga kini secara sistematis membunuh kaum muslim di Palestina.

Amerika juga intensif mengekspor nilai-nilai palsunya dengan ancaman sejata. Atas nama HAM, Demokrasi,liberalisme, pasar bebas dan perang melawan terorisme mereka melakukan apa saja termasuk menjajah Irak dan Afghanistan. Di sisi lain ide-ide yang mereka usung penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan.

Mereka mengatakan penegakan HAM berlaku sama bagi setiap umat manusia. Di sisi lain, negara Paman Sam ini merupakan pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Berdasarkan HAM seharusnya seseorang baru bisa ditahan kalau setelah ada dakwaan yang jelas dan didampingi pengacara. Tapi lihatlah apa yang dilakukan AS, puluhan ribu orang ditahan tanpa ada dakwaan yang jelas, tanpa bukti dan tidak didampingi pengacara. Mereka dijeblokan dan disiksa dalam penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara-penjara di negara-negara diktator lainnya yang mendukung AS.

Simbol Kemarahan Rakyat Irak

Begitulah kejahatan imperialisme Amerika. Maka wajar dimana saja George Bush berkunjung, demonstrasi anti Bush selalu marak. Bukan hanya Muntazer yang marah. Kantor berita BBC (15/12) melaporkan beberapa saat setelah kejadian pelemparan sepatu itu, puluhan ribu massa berkumpul di distrik Sadr City, Baghdad, mengelu-elukan Muntazer al-Zaidi. "Jutaan warga Irak dan jutaan orang lain di dunia ingin melakukan apa yang Muntazar kerjakan atau aksi yang sama dengan itu" kata Udaya, seorang demonstran. "Alhamdulilah dia memiliki keberanian untuk melakukannya, dan membalas dendam orang Irak terhadap pihak yang merusak dan menduduki negaranya serta membunuh penduduknya," katanya. ”Lebih dari lima juta orang menjadi yatim piatu karena Bush dan para pembantunya. Kami mengatakan Alhamdulilah karena Muntazar membuat kami bangga," tambah Udaya Sementara itu, Durgham saudara Udaya mengatakan Muntazer hanya menyampaikan pesan warga Irak kepada pendudukan Amerika yang diwakilkan presiden Bush.

Sebelumnya ratusan ribu rakyat Irak berkumpul di Kota Najaf untuk melancarkan unjukrasa besar yang meminta tentara yang dipimpin Amerika keluar. “No untuk penjajahan…Tidak untuk Amerika…Yes untuk kemerdekaan….” Inilah demonstrasi terbesar di Irak menentang keberadaan unsur asing di wilayah mereka. “Ini merupakan demonstrasi Irak atas nama semua rakyat Irak,” ujar salah seorang demonstran kepada kantor berita AFP (9/4/2007).

Tapi dasar Bush kepala batu dan tidak punya nurani, dia toh tidak merasa ada persoalan dengan lemparan itu. Peristiwa yang memalukan dan disiarkan diseluruh dunia ini sepetinya tidak menggoncang nuraninya. Dia tidak mau tahu, lemparan itu adalah kemarahan rakyat Irak kepada Negara Brutal AS.

“Saya tidak merasa terganggu. Saya tidak tahu apa masalah orang itu … Saya sedikit pun tidak merasa terancam dengan kejadian ini,” jawab Bush saat ditanya soal insiden itu”. Sepertinya lemparan sepatu tidak cukup untuk Bush, Sang Penjajah.



[1] Muhammadun, MSi, Widyaiswara Balai Diklat Kehutanan Pekanbaru

NEGERI BALAP KARUNG

Oleh : Ir. Muhammadun, M.Si

Indonesia, kini genap berusia 63 tahun. Usia 63 tahun ini berada di kisaran umur Nabi Muhammad SAW. Kita tidak tahu sampai kapan umur Republik Indonesia. Hanya saja semakin tua umur negeri dari Sabang sampai Merauke ini, makin menyedihkan. Penduduk miskin makin banyak, sumber daya alam luluh lantak, hutang luar negeri makin menumpuk, biaya sekolah makin mahal, harga-harga bahan pokok pun makin membumbung tinggi. Sangat bertolak belakang dengan cita-cita Bangsa Indonesia sebagaimana termaktub dalam pembukaaan UUD 1945.
Kondisi bangsa ini mirip dengan fenomena balap karung. Bukan tanpa arti bila permainan ini senantiasa dilombakan dalam pesta 17 Agustusan. Balap karung sesungguhnya mencerminkan jiwa bangsa. Balap karung persis menunjukkan perjalanan Bangsa Indoneia yang selalu saja kesrimpung. Maklum, nafsu untuk berlari begitu besar, tapi tenaga mampat karena kedua kaki terbelenggu ujung karung. Ironisnya, karung belenggu itu kita pegangi sendiri kencang-kencang dengan kedua belah tangan kita.
Kita berteriak ”bangkit Indonesia, bangkit Indonesia”, pekik merdeka pun hingga kini masih populer. Tapi di saat yang sama para petinggi republik ini makin menghamba pada kekuatan asing. Hakikatnya, menurut Dr. Revrisond Baswier, Republik Indonesia makin tidak mandiri, belum merdeka, belum berdaulat, serta banyak tergantung negara-negara asing. Celakanya, yang membuat kita masih terjajah adalah kita sendiri yang masih bermental inlander. Sehingga kita malah menikmati neo-kolonialisme yang melanda bangsa dan negara. DPR dan Pemerintah banyak mengesahkan peraturan perundangan yang mencerminkan sikap inlander tersebut. Akibatnya intervansi asing terjadi di berbagai lini kehidupan. Intervensi asing dalam pengelolaan bangsa, bisa kita lihat beberapa contohnya sebagai berikut :

Intervensi Pendidikan
Kita berteriak rakyat harus cerdas karena cita-cita republik ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, namun kini kita menganut kapitalilasi pendidikan. Akibatnya biaya sekolah makin mahal. Untuk sekedar contoh, kampus-kampus besar seperti UGM, UI, ITB dan IPB adalah Perguruan Tinggi paling favorit. Karena laku, lantas “dijual”. Keempatnya sejak tahun 2000, berubah statusnya menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berdasarkan PP No. 60/1999 dan PP No 61/1999. Kelak mereka bakal menjadi perusahaan jasa pendidikan pendidikan murni dengan payung Badan Hukum Pendidikan (BHP) berdasarkan UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 53 ayat 4.
Edward Sallis dalam bukunya Total Quality Management in Education, membeberkan bagaimana para pengambil kebijakan dan pelaksana pendidikan dipaksa menjalankan manajemen perusahaan berorientasi bisnis. Diantara dengan mengundang kapitalis merasuki kampus. Maka, IPB misalnya tidak sungkan lagi mengubah sebagian lahan kampus dan asrama mahasiswa-nya menjadi pusat perbelanjaan.
Draft RUU BHP sebenarnya dirancang sejak pertemuan World Declaration on Higher Education for the Twenty-First Century : Vision and Action di Paris tahun 1998 yang disponsori UNESCO. Kapitalisasi dan liberalisasi pendidikan ini merupakan salah satu konsekuensi dari General Agreement on Trade in Services (GATS) WTO yang meliberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, dan jasa pendidikan.

”Asingisasi” BUMN
Dengan UU No 25/2007 tentang Penenaman Modal, pemain asing diberi kebebasan berkompetisi di Indonesia. Pasal 7 ayat 1 dan 2 malah menghalangi ”nasionalisasi” dengan berbagai aturan yang menyulitkan dan merugikan negara sendiri. Yang terjadi justeru ”asingisasi” BUMN kita. Tahun ini, Komite Privatisasi memutuskan untuk untuk menjual atau memprivatisasi 34 BUMN dan melanjutkan privatisasi 3 BUMN yang tertunda tahun sebelumnya. Privatisasi dilakukan melalui IPO di bursa efek (Bisnis Indonesia, 5/2/2008). Tentu dalam kondisi krisis dalam negeri seperti ini, pemain asing lah yang akan mampu membeli BUMN-BUMN kita.
Sebelumnya, hingga tahun 2001 telah dijual 14 BUMN. Pada periode 2001-2006, melalui skenario privatisasi kembali terjual 10 BUMN. Sedangkan tahun 2008 ini ditargetkan 37 BUMN dapat diprivatisasi. Celakanya BUMN yang ditawarkan di pasar adalah BUMN yang tergolong strategis dan sehat. Contoh yang pernah mencuat adalah penjualan Indosat. Beberapa BUMN lain yang dilego adalah : PT Krakatau Steel, PT Bank Tabungan Negara, PT Sucofindo, PT Sarinah, PT INTI, Garuda Indonesia, PT Waskita Karya, dll (Bisnis Indonesia, 5/2/2008). Sekretaris Meneg BUMN M Said Didu mengatakan, sebanyak 85 persen saham BUMN yang sudah melantai di pasar bursa dikuasai oleh kapitalis asing ( Tempo Interaktif, 23/2/2006).

Penguasaan Migas
Berdasarkan UU Migas No 22 tahun 2001, pemodal asing bebas bermain di sektor migas dari hulu sampai hilir. Saat ini, menurut Dr Hendri Saparini, lebih dari 90 persen dari 120 production sharing contract kita dikuasai korporasi asing. Lebih dari 70 persen cadangan minyak dan 80 persen cadangan gas Indonesia dikuasai 60-an perusahaan asing termasuk the big five : ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaElf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco.
Dengan legalisasi UU Migas tersebut, pada tahun 2004 sebanyak 105 perusahaan swasta (asing) mendapat ijin untuk merambah sektor hilir migas, termasuk membuka SPBU (Trust, edisi 11/2004). Perusahaan-perusahaan asing itu antara lain British Petrolium, Shell, Petro China, Petronas dan Chevron Texaco. Mereka beroperasi setelah pemerintah beberapa kali menaikkan harga BBM. Merekalah sejatinya yang mendesak agar harga BBM di Indonesia disesuaikan dengan harga pasar Internasional (pasal 28 UU Migas). Akibatnya? Kita semua merasakan makin mahalnya harga BBM.
Bukti lain konyolnya UU Migas adalah pada pasal 22 ayat 1 yang mengatakan bahwa badan usaha atau bentuk usaha wajib menyerahkan paling banyak 25 persen bagiannya dari hasil minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Lho, sebanyak-banyaknya kok 25 persen? Sekurang-kurangnya saja belum tentu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya? BBM bukan hanya mahal, tapi juga langka.
Dr. Revrisong Baswier mengatakan bahwa UU Migas tersebut draft-nya di buat oleh korporasi asing. Untuk membuat UU tersebut pihak Indonesia harus utang sebesar 4 juta dólar pada USA dan Asia Development Bank. Artinya kita mengutang untuk membuat Undang-undang yang sejatinya untuk kepentingan neo-kolonialis asing (Al-Wa’ie. Agustus 2008)

Intervansi Bidang Hankam, Hukum dan Budaya
Di bidang pertahanan-keamanan, kita diatur asing lewat program-program IMET (dengan Amerika Serikat), DCA (dengan Singapura), Densus 88 (AS-Australia) Namru 2 (Amerika Serikat). Proyek NAMRU 2 yang ditentang oleh Menteri Kesehatan Dr Siti Fadillah Supari ini, pernah disebut oleh Koordinator MER-C dr Jose Rizal Jurnalis sebagai pangkalan militer Amerika di jantung Indonesia.
Sementara itu di bidang hukum, warisan kolonial Belanda masih mendominasi hukum perdata dan pidana kita. Kita berteriak tegakkan supremasi hukum. Namun hukum yang berlaku masih warisan penjajah. Tentu banyak pasal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Contoh, dalam KUHP pasal 284, yang termasuk kategori perzinahan (persetubuhan di luar nikah)yang dikenakan sanksi hanyalah pria dan atau wanita yang telah menikah. Itupun jika ada pengaduan dari pihak yang dirugikan. Sanksinya pun hanya maksimal 9 bulan penjara.
Sebagaimana kita maklum, sumber pokok hukum perdata di Indonesia (Burgerlijk Wetboek) berasal dari hukum perdata Prancis, yaitu Code Napoleon, yang karena pendudukan Prancis di Belanda berlaku juga di negeri Belanda (tahun 1838). Di Indonesia, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), juga merupakan copy paste dari KUHP untuk golongan Eropa (1867), dan KUHP untuk golongan Eropa itu juga copy paste dari Code Penal, yaitu Hukum Pidana di Prancis jaman Napoleon (1811).
Rakyat negeri katulistiwa ini pun bertubi-tubi diserbu arus budaya liberal. Sehingga pada domain private maupun publik kini kehidupan makin liberal. Seks bebas merajalela. Meski dampaknya ribuan rakyat terkena AIDS, sementara jutaan orok diaborsi tiap tahun. Namun para pengikut barisan kemaksiatan terus menjajakan budaya asing yang liberal ini.
Di bumi Melayu Riau pun sampai ada oknum anggota DPRD yang secara demonstratif mendukung kemaksiatan. Oknum anggota DPRD itu berencana mengundang Julia Perez dan Melly Zamri ke lokalisasi pelacuran Teleju. Mental inlender tapi liberal, bertemu dengan peraturan perundangan warisan kolonial. Makin rusaklah negeri ini. MUI dan puluhan ormas Islam di Pekanbaru pun bersikap tegas. Di depan MUI pada hari Selasa (12/8/2008), oknum tersebut berjanji membatalkan acara menjijikkan itu.
Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan pada semua pihak, wasiat Nabi Muhammad SAW :” Apabila suatu kaum melakukan praktek riba dan perzinahan secara terang-terangan, maka sesungguhnya kaum itu telah menghalalkan dirinya untuk mendapatkan adzab dari Allah azza wajalla” (HR Ahmad). Angka kemiskinan tidak akan turun dengan agenda memalukan yang digagas ”budayawan” yang satu ini. Justeru adzab Allah yang akan dihadapi oleh rakyat Bumi Melayu.
Jika “Sang Budayawan” tadi mengaku jadi orang Indonesia, tentu pernah membaca pembukaan UUD 1945. Di pembukaan itu tegas dinyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia atas berkat Ramat Allah. Tapi kok memperingati HUT kemerdekaan RI dengan melecehkan hukum-hukum Allah? Inilah fenomena Negeri Balap Karung. Berteriak menjungjung nilai-nilai moral, tapi di saat yang sama nilai-nilai moral malah dicampakkan. Hukum-hukum agama pun dilecehkan.

Melepaskan Belenggu Karung.
Jika negeri ini ingin berlari kencang, maka lepaskanlah karung yang membelenggu. Karung yang harus dilepaskan itu adalah simbolisasi dari mental inlander kita. Mental kita yang senantiasa menghamba pada penjajah. Mental kita yang suka mengagung-agungkan hukum kolonial. Mental kita yang senantiasa mendewakan budaya asing.
Jika negeri ini ingin berlari kencang meraih cita-citanya, maka ide-ide “karung” yang membelenggu juga harus dilepaskan. Agar leluasa berlari, agar sesuai dengan fitrah. Ide-ide yang selama ini membelenggu bangsa ini adalah sekularisme, kapitalisme, liberalisme dan isme-isme sesat lainnya.
Jika karung pembelenggu itu telah lepas dari diri kita. Dan kita kembali pada fitrah sebagai hamba Allah. Hamba yang tunduk pada aturan-aturan Dzat yang Maha Pencipta. Maka hukum Allah swt akan kita tegakkan baik pada tataran privat, publik maupun negara, maka Insya Allah kemenangan sejati dan kemerdekaan hakiki benar-benar dapat terwujud. Kesejahteraan, kecerdasan dan keadilan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Inilah hakikat dari mensyukuri kemerdekan, yakni dengan menegakkan aturan Allah SWT, Dzat yang memberi kita limpahan nikmat. Bukan dengan mempropagandakan kemaksiatan.